
Keterangan Gambar : foto ilustrasi.
Samarinda, sapakaltim.com – Kalimantan Timur hingga kini belum mencatat kasus virus Nipah pada manusia. Meski demikian, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kaltim memperketat pengawasan di pintu masuk wilayah sebagai langkah antisipasi terhadap penyakit zoonosis yang memiliki tingkat kematian tinggi tersebut.
Langkah kewaspadaan ini dilakukan menyusul diterbitkannya Surat Edaran Kementerian Kesehatan RI Nomor HK.02.02/C/445/2026 terkait kewaspadaan terhadap virus Nipah. Kepala Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Dinkes Kaltim, Eryariyatin, menegaskan hingga saat ini belum ada laporan kasus terkonfirmasi di Indonesia, termasuk di Kaltim.
“Belum ada kasus yang dikonfirmasi di Kalimantan Timur maupun di Indonesia secara keseluruhan,” ujarnya, Kamis (12/2/2026).
Virus Nipah termasuk penyakit zoonosis, yakni penyakit yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia. Reservoir utama virus ini adalah kelelawar buah. Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan air liur, urine, atau jaringan hewan terinfeksi. Selain itu, kontak erat dengan manusia atau hewan yang terpapar juga bisa menjadi jalur penularan.
Virus Nipah memiliki tingkat kematian (case fatality rate/CFR) yang tinggi, berkisar antara 40–75 persen. Masa inkubasinya umumnya 4–14 hari, namun dalam beberapa kasus dapat mencapai 45 hari. Gejala awal meliputi demam, sakit kepala, dan muntah, yang bisa berkembang menjadi radang otak (ensefalitis), kejang, penurunan kesadaran, hingga gangguan pernapasan pada kasus berat.
Meski memiliki tingkat kematian tinggi, Eryariyatin menegaskan virus Nipah tidak menular semudah Covid-19, karena membutuhkan kontak dekat untuk dapat menular dari satu individu ke individu lain.
Sebagai langkah pencegahan, pengawasan diperketat di Bandara SAMS Sepinggan Balikpapan dan Pelabuhan Semayang. Pemeriksaan dilakukan menggunakan thermal scanner untuk mendeteksi suhu tubuh penumpang. Selain itu, pelaku perjalanan juga dimonitor melalui aplikasi SATUSEHAT Health Pass (SSHP).
Petugas memprioritaskan pengawasan terhadap pelaku perjalanan dari luar negeri maupun negara endemik virus Nipah. Jika ditemukan penumpang dengan gejala seperti demam, muntah, kejang, penurunan kesadaran, batuk, pilek, atau sesak napas, petugas akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dan observasi medis.
Selain pengawasan di pintu masuk, masyarakat terutama yang tinggal di wilayah pedalaman diimbau meningkatkan kewaspadaan. Warga diminta tidak mengonsumsi nira mentah yang diambil langsung dari pohon serta menghindari buah yang telah tergigit hewan. Buah dan sayuran dianjurkan dicuci bersih dan dikupas sebelum dikonsumsi. Daging ternak juga harus dimasak hingga matang sempurna dan tidak dikonsumsi apabila dicurigai terpapar virus.
Eryariyatin menekankan, pencegahan bisa dimulai dari lingkungan keluarga dengan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Rutin mencuci tangan dengan sabun dan segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami demam atau gejala setelah kontak dengan hewan liar sangat dianjurkan.
“Masyarakat tidak perlu panik, cukup tetap waspada. Pencegahan sederhana bisa dimulai dari rumah, termasuk menjaga kebersihan dan mematuhi protokol kesehatan,” tutupnya.
Langkah-langkah ini diharapkan dapat meminimalkan risiko masuknya virus Nipah ke Kaltim, sekaligus memastikan bahwa masyarakat tetap mendapatkan informasi yang jelas dan akurat terkait penyakit yang masih tergolong langka di Indonesia ini.
(Tim Redaksi)







LEAVE A REPLY