
Keterangan Gambar : Suasana kegiatan peningkatan kapasitas pengguna riset dan inovasi yang berlangsung di Crystal 2 Hotel Mercure Samarinda, Sabtu (18/7/2026)
Samarinda, sapakaltim.com– Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) mengubah cara masyarakat memperoleh sekaligus mengonsumsi informasi. Di tengah derasnya arus konten yang beredar tanpa batas, radio dan televisi dihadapkan pada tuntutan baru untuk tetap menjadi sumber informasi yang dapat dipercaya, menghadirkan edukasi yang berkualitas, serta menjalankan fungsi hiburan tanpa mengabaikan tanggung jawab publik.
Kesadaran atas tantangan tersebut mendorong Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Komisi X DPR RI menggelar kegiatan peningkatan kapasitas pengguna riset dan inovasi bertema "Penguatan Peran Radio dan Televisi Kalimantan Timur sebagai Media Informasi, Edukasi, dan Hiburan Berkualitas di Era Digital." Kegiatan berlangsung di Crystal 2 Hotel Mercure Samarinda, Sabtu (18/7/2026), dengan melibatkan sekitar 80 pegiat penyiaran dari berbagai lembaga televisi dan radio di Kalimantan Timur.
Forum ini juga dihadiri unsur pemerintah, regulator, lembaga penyiaran, hingga komunitas, di antaranya BRIN, BRIDA Kalimantan Timur, Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Timur, KPID Kalimantan Timur, TVRI, RRI, Komdigi, Ketua Lembaga Adat Budaya Panji, serta sejumlah pemangku kepentingan lainnya.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kalimantan Timur, Ririn Sari Dewi, menilai kolaborasi antara BRIN dan Komisi X DPR RI menjadi langkah penting untuk memperkuat kesiapan insan penyiaran menghadapi transformasi digital yang terus berkembang. Menurutnya, perubahan teknologi harus diimbangi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta pemahaman terhadap regulasi yang terus mengalami penyesuaian.
"Lembaga penyiaran harus mampu menghasilkan konten yang berkualitas, edukatif, dan bertanggung jawab. Selain memahami aturan, insan penyiaran juga dituntut peka terhadap berbagai peluang yang muncul seiring perkembangan teknologi," ujarnya.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi dapat diterapkan dalam praktik penyiaran sehari-hari sehingga kualitas layanan kepada masyarakat semakin meningkat.
Sementara itu, Kepala Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Kalimantan Timur, H. Fitriansyah, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari sinergi berkelanjutan antara BRIN dan Komisi X DPR RI dalam memperkuat budaya riset dan inovasi di daerah.
Menurutnya, kehadiran AI membawa dua sisi sekaligus, yakni peluang untuk meningkatkan produktivitas dan tantangan dalam menjaga integritas informasi.
"Teknologi AI harus dipahami sebagai alat pendukung yang dapat dimanfaatkan secara bijaksana. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana penggunaannya tetap memperhatikan etika sehingga tidak mengurangi kualitas maupun kredibilitas informasi yang disampaikan kepada masyarakat," katanya.
Dalam pidato kunci, Ketua Komisi X DPR RI, Hetifah Sjaifudian, menegaskan bahwa eksistensi radio dan televisi tetap relevan meskipun masyarakat kini semakin akrab dengan media digital dan media sosial. Menurutnya, media penyiaran masih memiliki keunggulan sebagai penyedia informasi yang telah melalui proses verifikasi, sekaligus menjadi ruang publik yang mampu menjaga kualitas diskursus di tengah derasnya informasi yang belum tentu benar.
Ia menyebut industri penyiaran saat ini menghadapi berbagai tantangan, mulai dari penyebaran hoaks dan disinformasi, persaingan dengan platform digital, perubahan pola konsumsi media oleh Generasi Z, hingga menurunnya loyalitas masyarakat terhadap media konvensional.
Hetifah juga menyoroti perkembangan AI yang semakin cepat. Menurutnya, teknologi tersebut sebaiknya dimanfaatkan sebagai pendukung kerja jurnalistik, bukan sebagai pengganti peran wartawan maupun editor.
"AI dapat menjadi co-pilot dalam proses kerja media. Namun, tanggung jawab utama tetap berada pada manusia melalui verifikasi yang ketat, analisis yang mendalam, penggunaan data yang valid, dan orientasi pada kepentingan publik," tegasnya.
Ia menambahkan, media penyiaran yang mampu menjaga kualitas dan integritas akan tetap menjadi salah satu fondasi penting dalam pembangunan masyarakat. Selain menyampaikan informasi, radio dan televisi juga memiliki fungsi edukatif yang berkontribusi terhadap peningkatan literasi publik, baik melalui pendidikan formal maupun nonformal.
Dari sisi riset, perwakilan BRIN, Mega Mardita, memperkenalkan konsep knowledge society atau masyarakat berbasis pengetahuan. Ia menekankan bahwa penyiaran masa depan tidak cukup hanya menyampaikan berita, tetapi juga harus mampu mengolah informasi menjadi pengetahuan yang bermanfaat melalui penguatan literasi data, budaya verifikasi, dan kolaborasi berbasis hasil riset.
Senada dengan itu, Ketua KPID Kalimantan Timur menilai kegiatan tersebut menjadi momentum strategis untuk memperkuat kualitas penyiaran daerah. Menurutnya, meskipun lanskap media berubah sangat cepat, radio dan televisi masih menjadi salah satu rujukan utama masyarakat dalam memperoleh informasi yang kredibel, akurat, dan bertanggung jawab.
Melalui kolaborasi antara pemerintah, lembaga riset, regulator, serta insan penyiaran, diharapkan tercipta ekosistem media yang mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi tanpa mengabaikan prinsip-prinsip dasar jurnalistik. Akurasi, verifikasi, etika, dan kepentingan publik dinilai harus tetap menjadi fondasi utama agar media penyiaran terus dipercaya di tengah era digital yang semakin kompleks.
(Tim Redaksi)








LEAVE A REPLY